Di Balik Pembubaran Diskusi UGM, Ada Tuntutan atas Persoalan Ekonomi Rakyat
STATMENTBERITA
Humas LMND
6/18/20262 min read


Jakarta – Sekretaris Jenderal Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND) sekaligus anggota Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (KAGAMA) Muda, Taufiq Hidayat, menilai peristiwa penghentian diskusi yang menghadirkan sejumlah pejabat negara di Universitas Gadjah Mada (UGM) perlu dipahami secara lebih komprehensif dan tidak semata-mata dilihat sebagai tindakan anti-dialog.
Menurut Taufiq, aksi mahasiswa tersebut merupakan pernyataan politik atas kondisi ekonomi yang semakin berat dirasakan masyarakat, sekaligus ekspresi kekecewaan terhadap minimnya respons negara dalam menjawab persoalan-persoalan yang dihadapi rakyat.
“Pembubaran diskusi oleh mahasiswa UGM perlu dipahami sebagai bentuk kritik terhadap monopoli diskursus Pancasila yang terus direproduksi di tengah krisis ekonomi-politik yang nyata dan dirasakan masyarakat. Ketika kenaikan harga BBM, pelemahan nilai rupiah, meningkatnya biaya hidup, dan berbagai tekanan ekonomi menjadi perhatian publik, penekanan yang berlebihan pada retorika Pancasila dan kerukunan dipandang sebagai pengabaian terhadap persoalan yang lebih mendesak,” ujar Taufiq.
Ia menegaskan bahwa kritik tersebut bukanlah penolakan terhadap Pancasila sebagai dasar negara. Sebaliknya, mahasiswa mempertanyakan kecenderungan menjadikan narasi kebangsaan sebagai penjelasan dominan di tengah berbagai persoalan ekonomi rakyat yang hingga kini belum memperoleh jawaban dan penyelesaian yang memadai.
Taufiq juga menyoroti pernyataan KAGAMA Muda yang sebelumnya menyampaikan dukungan terhadap aksi mahasiswa UGM sebagai bentuk kritik yang sah dalam kehidupan demokrasi. Menurutnya, sikap tersebut menunjukkan bahwa keresahan mahasiswa tidak berdiri sendiri, melainkan merepresentasikan kegelisahan yang lebih luas di tengah masyarakat.
“Sebagaimana disampaikan KAGAMA Muda, mahasiswa memiliki hak untuk menyampaikan kritik terhadap kebijakan publik. Namun yang perlu dipahami bukan hanya bentuk kritiknya, melainkan kondisi yang melatarbelakanginya. Kritik mahasiswa hari ini lahir dari situasi ekonomi yang semakin menekan rakyat, sementara respons dan solusi konkret yang diharapkan masyarakat belum kunjung dirasakan,” katanya.
Lebih lanjut, ia menilai bahwa kritik mahasiswa telah berkembang melampaui sekadar ekspresi demokratis. Kritik tersebut kini hadir sebagai tuntutan politik yang mendesak negara untuk lebih serius menjawab persoalan-persoalan material yang dihadapi masyarakat.
“Pada titik ini, kritik mahasiswa tidak lagi berada semata pada level ekspresi demokratis atau artikulasi keresahan publik. Kritik ini telah bergerak menjadi tuntutan politik atas stagnasi perbaikan ekonomi serta ketidakmampuan negara dalam memberikan jawaban yang memadai terhadap persoalan material yang dihadapi masyarakat,” tegasnya.
Meski demikian, Taufiq menegaskan bahwa kebebasan akademik dan kebebasan berpendapat tetap harus dijalankan dalam koridor yang jujur, terbuka, dan berpijak pada realitas sosial yang dihadapi masyarakat. Menurutnya, dialog yang sehat harus berangkat dari persoalan konkret yang benar-benar dirasakan rakyat.
“Diskusi mengenai ideologi, kebangsaan, dan kerukunan tentu penting. Namun forum-forum publik juga harus mampu menjawab keresahan masyarakat terkait kenaikan harga kebutuhan pokok, biaya hidup, lapangan kerja, dan ketidakpastian ekonomi. Ketika persoalan-persoalan tersebut tidak dijawab secara memadai, maka kritik mahasiswa akan terus menemukan relevansi dan dukungan di tengah masyarakat,” tutup Taufiq

lmnd.id@gmail.com
Connect
© 2026. All rights reserved. Supported by goldyproject.my.id
