Eksekutif LMND Jakarta Selatan Bersama Ciapyung Plus Jakarta Selatan, Soroti Pelemahan Rupiah dan Desak Pemerintah Evaluasi Kebijakan Ekonomi

BERITA

Humas LMND

6/11/20262 min read

Jakarta Selatan – Eksekutif Kota Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (EK LMND) Jakarta Selatan bersama aliansi Cipayung Jakarta Selatan menggelar aksi sebagai bentuk keprihatinan terhadap kondisi ekonomi nasional yang dinilai semakin membebani kehidupan rakyat. Aksi tersebut diikuti oleh berbagai organisasi kepemudaan dan kemahasiswaan yang tergabung dalam Cipayung Jakarta Selatan, terdiri dari LMND, HMI MPO, HMI DIPO, IMM, PMII, SEMMI, PMKRI, GMNI, dan HIKMABUDHI.

Aksi ini menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang dalam beberapa waktu terakhir mengalami tekanan hingga menyentuh kisaran Rp17.900–Rp18.000 per dolar AS. Massa aksi menilai kondisi tersebut bukan sekadar gejolak pasar biasa, melainkan indikator adanya tekanan serius terhadap fondasi ekonomi nasional yang berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat.

Dalam pernyataannya, massa aksi menilai pelemahan rupiah merupakan akumulasi dari berbagai faktor global dan domestik, mulai dari ketegangan geopolitik internasional, penguatan dolar AS, keluarnya modal asing, hingga menurunnya kemampuan domestik dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Kondisi tersebut dinilai berpotensi memicu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM), meningkatnya harga pangan dan bahan baku industri, bertambahnya biaya pendidikan dan kesehatan yang masih bergantung pada impor, meningkatnya beban utang sektor swasta berbasis dolar AS, hingga ancaman pemutusan hubungan kerja di berbagai sektor.

Pjs Ketua EK LMND Jakarta Selatan, Bung Alom, menyampaikan bahwa pemerintah tidak boleh melihat pelemahan rupiah hanya sebagai persoalan teknis moneter semata, melainkan sebagai persoalan yang secara langsung memengaruhi kehidupan masyarakat.

“Ketika rupiah melemah hingga menembus titik psikologis Rp18.000 per dolar AS, yang terdampak bukan hanya indikator ekonomi, tetapi langsung menyentuh kehidupan rakyat. Harga kebutuhan naik, daya beli turun, biaya produksi meningkat, dan kelompok masyarakat rentan menjadi pihak yang paling menanggung konsekuensinya. Negara harus hadir melalui langkah ekonomi yang terukur dan berpihak kepada rakyat, bukan sekadar menjaga sentimen pasar.”

Menurut Bung Alom, pemerintah perlu melakukan evaluasi menyeluruh terhadap arah kebijakan ekonomi nasional dan lebih fokus pada penyelesaian persoalan fundamental yang berdampak langsung terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat.

Sementara itu, Pjs Sekretaris Kota EK LMND Jakarta Selatan, Bung Jonathan, menegaskan bahwa respons pemerintah terhadap tekanan ekonomi tidak cukup hanya melalui instrumen moneter, tetapi harus dibarengi dengan pembenahan struktural dan kebijakan yang mampu menjaga daya tahan ekonomi nasional.

“Kami memandang situasi ini sebagai alarm serius bagi stabilitas ekonomi nasional. Pemerintah tidak cukup hanya merespons melalui instrumen moneter seperti kenaikan suku bunga, tetapi harus melakukan pembenahan struktural terhadap kebijakan ekonomi, memperkuat daya tahan sektor riil, serta memastikan rakyat tidak menjadi pihak yang terus menanggung biaya dari setiap krisis.”

Melalui aksi tersebut, Cipayung Jakarta Selatan juga mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah-langkah yang terukur dalam menstabilkan kondisi ekonomi nasional, melakukan evaluasi terhadap berbagai program prioritas yang dinilai membebani anggaran negara, menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok dan energi, serta memastikan arah pembangunan nasional tetap berpihak pada kepentingan rakyat. Selain itu, massa aksi turut menyuarakan kritik terhadap sejumlah kebijakan ekonomi dan arah hubungan perdagangan yang dinilai perlu ditinjau ulang agar tidak semakin memperbesar beban masyarakat.

Aliansi menegaskan bahwa aksi ini merupakan bentuk partisipasi kritis mahasiswa dan pemuda dalam mengawal kebijakan publik agar tetap berorientasi pada kepentingan rakyat luas di tengah tekanan ekonomi yang semakin meningkat.