Petani, Penyangga Tatanan Negara Indonesia
OPINI
Humas LMND
9/24/20262 min read


JAKARTA — Hari Tani Nasional setiap 24 September seharusnya tidak berhenti sebagai peringatan seremonial. Momentum ini perlu menjadi kesempatan untuk melihat kembali bagaimana negara memperlakukan petani, sebab berbicara tentang pertanian pada dasarnya juga berbicara tentang pangan, kesejahteraan rakyat, dan masa depan Indonesia. Petani bukan sekadar pelaku produksi, tetapi bagian penting dari penyangga kehidupan negara.
Pemerintah melalui Kementerian Pertanian di bawah Menteri Pertanian Amran Sulaiman telah mendorong berbagai upaya untuk memperkuat produksi dan ketahanan pangan. Namun, kebijakan pertanian tidak cukup hanya diukur dari seberapa tegas seorang menteri menyampaikan kebijakan dari pusat. Tantangan sesungguhnya adalah memastikan kebijakan tersebut benar-benar bekerja sampai ke tingkat daerah dan dirasakan oleh petani. Menteri tidak mungkin hadir di setiap sawah, tetapi negara harus mampu hadir di setiap wilayah pertanian melalui pemerintah daerah, dinas pertanian, penyuluh, hingga aparat pelaksana di lapangan.
Persoalan pupuk menjadi salah satu contoh. Bagi petani, persoalannya bukan hanya tentang berapa banyak pupuk yang disediakan pemerintah, tetapi apakah pupuk tersebut tersedia ketika dibutuhkan, sampai kepada petani yang berhak, serta tidak menimbulkan persoalan baru dalam distribusinya. Karena itu, pengawasan tidak bisa hanya dilakukan dari pusat. Pemerintah daerah harus aktif turun ke lapangan dan memastikan kebijakan benar-benar berjalan, bukan menunggu petani datang membawa keluhan.
Di sisi lain, persoalan pertanian juga tidak bisa dilepaskan dari persoalan penguasaan lahan. Data Sensus Pertanian 2023 BPS mencatat terdapat 27,8 juta petani pengguna lahan pertanian, sementara 17,25 juta di antaranya merupakan petani gurem dengan penguasaan lahan kurang dari 0,5 hektare. Angka ini memperlihatkan bahwa persoalan pertanian bukan hanya bagaimana meningkatkan produksi, tetapi juga bagaimana memastikan petani memiliki basis produksi yang cukup untuk hidup dan berkembang. Sebab sulit berbicara tentang peningkatan kesejahteraan petani jika lahan yang mereka kelola semakin terbatas.
Persoalan berikutnya adalah regenerasi. BPS mencatat petani berusia 19–39 tahun berjumlah sekitar 6,18 juta orang atau 21,93 persen dari petani Indonesia. Data ini menunjukkan bahwa regenerasi petani menjadi pekerjaan yang tidak bisa ditunda. Pertanian harus mampu menjadi ruang ekonomi yang menjanjikan bagi anak muda, bukan sekadar pekerjaan yang dijalani karena tidak memiliki pilihan lain. Anak muda perlu melihat pertanian sebagai sektor yang memiliki masa depan, dengan dukungan teknologi, akses terhadap lahan, pembiayaan, pengetahuan, pasar, dan perlindungan yang memadai.
Karena itu, memperkuat pertanian tidak cukup hanya dengan mengejar angka produksi. Negara juga perlu memastikan petani memiliki posisi yang kuat dalam keseluruhan rantai pertanian, mulai dari produksi hingga distribusi dan pemasaran. Ketahanan pangan pada akhirnya tidak akan berdiri kokoh jika petaninya sendiri masih menghadapi persoalan mendasar terkait lahan, biaya produksi, akses pasar, dan kesejahteraan.
Dari perspektif gerakan mahasiswa, pemerintah tidak harus selalu ditempatkan sebagai pihak yang salah. Tetapi setiap kebijakan publik tetap harus diuji melalui pelaksanaannya dan dampaknya bagi rakyat. Dukungan terhadap pembangunan pertanian harus berjalan bersama dengan kritik terhadap persoalan yang masih terjadi di lapangan. Sebab tugas gerakan mahasiswa bukan sekadar menolak atau mendukung kebijakan, tetapi memastikan kepentingan rakyat tetap menjadi ukuran utama dalam membaca arah pembangunan.
Hari Tani Nasional pada akhirnya harus menjadi pengingat bahwa membangun pertanian berarti membangun masa depan Indonesia. Pupuk harus sampai kepada petani, lahan pertanian harus dilindungi, kesejahteraan petani harus diperkuat, dan generasi muda harus memiliki alasan untuk memilih pertanian sebagai bagian dari masa depannya.
Sebab pertanyaan tentang pertanian hari ini bukan hanya siapa yang menanam dan siapa yang memanen, tetapi siapa yang akan memastikan Indonesia tetap mampu memberi makan rakyatnya di masa depan.

lmnd.id@gmail.com
Connect
© 2026. All rights reserved. Supported by goldyproject.my.id
