Rongkong Bukan Ladang Eksploitasi: Ketika Budaya Dikalahkan oleh Mesin Panas Bumi
OPINI
Humas LMND
5/2/20261 min read


Kehadiran PT Ormat Geothermal Indonesia di Kecamatan Rongkong harus dilihat secara kritis, bukan sekadar dibungkus dengan narasi investasi dan pembangunan. Rongkong bukan wilayah kosong yang menunggu industri datang untuk “memajukan” masyarakatnya. Rongkong adalah ruang hidup yang sejak lama tumbuh dengan kekayaan budaya, kearifan lokal, serta hubungan ekologis yang terjaga secara turun-temurun. Ketika proyek panas bumi dipaksakan masuk, yang terancam bukan hanya bentang alam, tetapi juga identitas sosial dan budaya masyarakat Rongkong itu sendiri.
Masalah mendasarnya terletak pada arah pembangunan yang terus berpihak pada kepentingan modal besar dan mengabaikan potensi yang telah hidup di tengah masyarakat. Budaya Rongkong bukan sekadar simbol atau ornamen wisata, melainkan fondasi kehidupan sosial-ekonomi masyarakat. Kampung adat, pertanian rakyat, ekowisata berbasis masyarakat, hingga ekonomi kreatif lokal seharusnya bisa menjadi jalan pembangunan yang lebih adil, berkelanjutan, dan berpihak pada rakyat tanpa harus merusak ruang hidup mereka sendiri.
Namun realitasnya, negara lebih sering membuka karpet merah bagi investasi skala besar yang menjanjikan pertumbuhan angka-angka ekonomi secara cepat. Padahal proyek-proyek seperti ini kerap meninggalkan persoalan serius: kerusakan lingkungan, konflik agraria, ketimpangan akses, hingga marginalisasi masyarakat adat dan masyarakat lokal. Warga akhirnya hanya menjadi penonton di tanahnya sendiri, sementara keuntungan besar mengalir kepada pemilik modal.
Demisioner Sekretaris Eksekutif Kota LMND Palopo, Sigit Nugroho, menegaskan bahwa pembangunan tidak boleh memutus hubungan masyarakat dengan ruang hidup dan budayanya. “Pembangunan yang mengorbankan budaya, lingkungan, dan hak hidup masyarakat lokal bukanlah kemajuan, melainkan bentuk baru dari eksploitasi atas nama investasi,” ujarnya.
Karena itu, kritik terhadap proyek geothermal di Rongkong bukan berarti anti pembangunan. Yang dipersoalkan adalah pembangunan untuk siapa dan demi kepentingan siapa. Jika industri justru menggerus potensi budaya dan kehidupan masyarakat yang lebih inklusif serta berkelanjutan, maka itu bukan kemajuan, melainkan pemaksaan arah pembangunan yang jauh dari kepentingan rakyat.
Rongkong tidak membutuhkan industrialisasi untuk dianggap maju. Rongkong hanya membutuhkan ruang untuk tumbuh dengan caranya sendiri, dengan budaya, alam, dan masyarakatnya sebagai pusat kehidupan. Sebab pada akhirnya, budaya bukan hambatan pembangunan melainkan masa depan yang paling jujur bagi Rongkong.

lmnd.id@gmail.com
Connect
© 2026. All rights reserved. Supported by goldyproject.my.id
